Sabtu, 30 April 2011

Potensi Itik Alabio Belum Tergarap Maksimal (Hulu Sungai Utara)

Usaha tani itik alabio telah dilakukan sejak lama di Kalimantan Selatan dan merupakan usaha pokok masyarakat terutama di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Beternak itik ini dapat memberikan kontribusi yang memadai terhadap pendapatan keluarga. Skala kepemilikan bervariasi antara 200−7.000 ekor/peternak. Usaha tani itik alabio kini sudah mengarah ke spesialisasi usaha yaitu produksi telur tetas, telur konsumsi, penetasan, dan pembesaran.


Pengembangan itik Alabio cukup prospektif karena ditunjang oleh ketersediaan bibit dan pasar, keterampilan peternak yang memadai, sosial-budaya menerima, dan dukungan pemerintah daerah.

Permasalahan dalam beternak itik alabio adalah belum adanya standarisasi bibit, kualitas pejantan menurun, pencatatan produksi belum optimal, mahalnya harga pakan, ketersediaan bahan pakan lokal bergantung musim, serta penanganan pascapanen dan penyakit yang belum memadai.

Itik Alabio merupakan salah satu plasma nutfah unggas lokal yang mempunyai keunggulan sebagai penghasil telur. Itik ini telah lama dipelihara dan berkembang di Kalimantan Selatan, terutama di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), dan Hulu Sungai Utara (HSU).

Populasi itik alabio di Kalimantan Selatan tahun 2006 tercatat 3.487.002 ekor (Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan 2006). Pemeliharaan itik alabio mempunyai prospek yang cerah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi protein hewani asal ternak.

Keragaan itik alabio meliputi produksi telur 220.250 butir/ekor/tahun, puncak produksi sebanyak 92,70%, bobot telur 59, 65 g/butir, konsumsi pakan 155. 190 g/ ekor/hari, daya tetas 79,49%, daya mortalitas setelah menetas 0,75%, bobot badan betina umur 6 bulan 1,60 kg dan jantan 1,75 kg.

Tujuan pemeliharaan itik alabio di Kalimantan Selatan umumnya bergantung pada kondisi masing-masing daerah. Di Kabupaten HSU, pemeliharaan itik alabio telah mengarah ke spesialisasi model pengembangan usaha, yaitu penetasan (hatchery), penghasil telur tetas (breeding) dan telur konsumsi (laying) serta usaha pembesaran itik dara (rearing).

Itik Alabio mempunyai kapasitas produksi telur yang tinggi. Hal ini mungkin karena tersedianya sumber pakan di rawa-rawa berupa ikanikan kecil, ganggang dan hijauan lain serta binatang lainnya. Produksi telur itik yang dipelihara dengan sistem lanting mencapai 60,90% selama periode bertelur, atau rata-rata70%. Sementara yang dipelihara secara tradisional produksinya hanya 130 butir/ekor/tahun.

Pemeliharaan itik alabio cukup beragam, bergantung pada kebiasaan dan kondisi alam. Di daerah sentra produksi seperti Kabupaten HSU dan HST, pemeliharaan itik dilakukan secara intensif dan semi-intensif dengan skala pemeliharaan 500-5.000 ekor setiap petani peternak.

Usaha pemeliharaan itik secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu skala kecil, itik yang dipelihara kurang dari 500 ekor dengan system pemeliharaan tradisional atau dilepas di lahan rawa atau sawah, skala sedang dengan jumlah itik yang dipelihara 500- 5.000 ekor per peternak, dan  skala besar dengan jumlah itik yang dipelihara lebih dari 5.000 ekor/peternak dengan system pemeliharaan secara intensif.

Namun, ada pula peternak yang memelihara itik alabio secara semi-intensif, dengan skala usaha25-200 ekor/kepala keluarga. Itik diumbar atau dilepas dan diberi pakan tambahan berupa cangkang udang, ikan rucah atau rajungan untuk meningkatkan kualitas warna kuning telur.

Pemeliharaan itik alabio jantan untuk tujuan menghasilkan daging berkualitas prima harus dilakukan sampai umur 12 minggu. Itik alabio jantan yang dipelihara sebagai pedaging pada umur 12 minggu memiliki bobot badan yang lebih tinggi disbanding itik bali dan tegal, namun sedikit lebih rendah dari itik khaki chambell.

Pengolahan pascapanen daging dan telur itik merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah dalam upaya mendongkrak pendapatan dan gizi masyarakat. Beberapa bentuk produk olahan dari itik adalah dendeng, abon, sosis, dan bakso.

Permasalahan yang dihadapi dalam pengolahan daging itik adalah daging kurang empuk dan pengemasan belum baik, sehingga produk tidak dapat bertahan lama. Kualitas dendeng itik kurang baik bahkan ada yang aromanya kurang segar atau sedikit berbau tengik sehingga kurang disukai konsumen. Telur biasanya diawetkan menjadi telur asin, namun kualitasnya masih beragam, terutama warna kuning telurnya.

Sebagian masyarakat Kalimantan Selatan cenderung mengkonsumsi telur itik yang warna kuning telurnya lebih merah, atau orang setempat menyebutnya “telur tambak”. Telur seperti itu dihasilkan dari itik yang dipelihara dengan cara digembala.

Beberapa penyakit pada itik alabio adalah salmonelosis, kolibasilosis, cengesan atau selesma, aflatoksikosis, dan aspergilosis. Istiana (1994) telah berhasil mengisolasi Salmonella sp. sebesar 27,30% dari sampel telur tetas itik alabio berembrio mati. Namun, Salmonella berhasil diisolasi dari sampel anak itik, telur, dedak dan pakan itik alabio yang dijual di pasar.(vb/yul/foto;ist)

Sumber :
http://www.vivaborneo.com/potensi-itik-alabio-belum-tergarap-maksimal.htm/comment-page-1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar