Minggu, 01 Mei 2011

Menyusuri Pasar Intan Martapura, Kabupaten Banjar



Apa yang ada di benak Anda ketika ada yang menyebut nama Martapura? Martapura adalah nama sebuah kota yang paling terkenal di Kalimantan Selatan, bahkan di Indonesia, sebagai kota penghasil intan dan permata. Martapura terkenal sebagai penghasil intan terbesar dan berkualitas baik di Indonesia.

Meskipun pada awalnya banyak wisatawan yang datang ke Kalimantan Selatan untuk mengunjungi pasar intan di Martapura, kini pilihan objek wisata yang ditawarkan oleh pemerintah daerah mulai berkembang, tidak lagi hanya mengandalkan Martapura belaka.


Beberapa objek wisata mulai direnovasi dan berbenah diri, sehingga layak dikunjungi oleh wisatawan dari luar daerah, dan tentu saja oleh para wisatawan lokal. Pemerintah daerah kini mulai mempersiapkan beberepa objek wisata yang bisa menjadi pilihan bagi kelurga.

Banjarmasin sebagai ibukota Propinsi Kalimantan Selatan memiliki luas 36.986 Km persegi, terkenal dengan dua kota besarnya yaitu Banjarmasin dan Banjarbaru. Terdiri dari sebelas kabupaten, dan Martapura masuk ke dalam wilayah Kabupaten Banjar.

Martapura sendiri berkembang menjadi salah satu kota yang paling ramai, karena selain memiliki intan sebagai magnet atau daya tarik, Martapura juga dikenal sebagai basis masyarakat Islam di Kalimantan Selatan. Martapura memiliki Madrasah Darussalam. Selain bergantung pada intan yang ada di dalam perut bumi-nya, penghasilan kota Martapura juga bergantung dari banyaknya wisatawan yang berkunjung. Seluruh sektor yang berhubungan dengan pariwisata, menyumbangkan banyak devisa pada Martapura. Kompleks pertokoan di Pasar Intan Martapura biasanya sangat ramai didatangi oleh wisatawan. Terdapat 87 toko intan yang ada dalam empat blok pasar tersebut.

Pasar Intan Martapura terletak di Jalan Ahmad Yani, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Jika hari libur (week end dan libur nasional), Pasar Intan Martapura bisa dikunjungi hingga 20.000 pengunjung yang memadati empat blok. Tetapi, di hari-hari biasa, pengunjung hanya berkisar pada jumlah 10.000 orang saja. Kapasitas parkir Pasar Intan Martapura ini bisa menampung hingga 380an mobil. Jika sudah tidak muat lagi, pengunjung biasa menitipkannya di masjid Al Karomah.


Jika dahulu para wisatawan banyak berkunjung sekedar untuk membeli dan berbelanja intan sebagai oleh-oleh atau cindera mata, sekarang ini wisatawan sudah tidak lagi sekedar mencari intan, tetapi juga jalan-jalan berwisata kuliner dan menemani keluarganya dalam arena permainan yang disediakan.

Masjid Raya Al Karomah yang terletak tak jauh dari Pasar Intan Martapura, saat ini menjadi salah satu tujuan wisata selain Pasar Intan. Masjid Raya Al Karomah sangat megah dan diyakini sebagai Masjid terbesar di Kalimantan. Dengan kubahnya yang unik dan berwarna-warni di puncaknya, arsitektur bangunan ini juga berbeda dengan masjid lainnya. Memiliki satu menara yang tinggu dan keunikan kubahnya, masyarakat lokal juga banyak yang menjadikan Masjid Raya Al Karomah Martapura sebagai tujuan wisata, tidak sekedar berfungsi sebagai tempat ibadah.

Dari Jakarta, dengan pesawat penerbangan menuju Bandara Syamsudin Noor, Anda hanya memerlukan waktu setengah jam saja untuk bisa mencapai Martapura. Tetapi, jika dari Kota Banjarmasinnya, Anda membutuhkan waktu berkendara hingga satu jam sebelum bisa mencapai Martapura.

Salah satu tips yang perlu Anda ingat ketika berburu intan di pasar intan Martapura adalah, selalu cek keaslian intan dengan alat yang dimiliki oleh hampir semua toko di pasar tersebut. Jika Anda tak menanyakan keasliannya dan meminta dicek ulang, biasanya bisa dikasih dengan barang yang tiruan.

Sumber :
http://www.jalanjalanyuk.com/menyusuri-pasar-intan-martapura/


Intan Berkilauan di Martapura

BERKUNJUNG ke Kota Martapura, Ibukota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, jangan lupa mampir ke pusat batu permata dan cinderamata Cahaya Bumi Selamat Martapura. Di sini, Anda bisa melihat atau membeli batu intan yang indah berkilauan.

Pada deretan toko yang berjejer rapi, Anda akan menemukan batu intan yang masih utuh atau yang sudah dipadupadankan dalam bentuk perhiasan. Ada pula aksesoris yang berbahan dasar batu. Selain itu, pasar ini juga menyediakan kerajinan tangan khas daerah hingga ramuan obat Kalimantan.

Beragamnya hasil kerajinan dari batu di pasar ini membuat pedagang mematok harga yang variatif. Mau yang murah ataupun yang sangat mahal, bisa Anda temukan di sini.

Meskipun terkenal sebagai pasar intan, namun Anda tidak akan mendapatkan nuansa supermewah di sini. Toko-tokonya terkesan sederhana, begitupun dengan para pengunjung yang kesemuanya berbaur dalam suasana egaliter.

Hal yang juga lumrah ditemukan di pasar ini adalah beberapa toko yang sering dalam keadaan tertutup. Ini dikarenakan para pedagang lebih suka menjualnya intan secara asongan.

Oiya, semua intan yang ada di pasar ini masih diolah secara tradisional dan bila ingin melihat secara langsung bagaimana prosesnya, Anda bisa berkunjung ke Kecamatan Cempaka yang berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat kota Martapura.

Batu paling terkenal yang pernah ditemukan di tampat ini adalah Intan Trisakti. Dengan ditemukannnya batu ini, si pendulang langsung kaya mendadak. Bahkan nama Trisakti diabadikan menjadi nama sebuah pelabuhan di Banjarmasin.

Ada sesuatu yang unik dalam tradisi penambangan di daerah Martapura. Jika salah seorang mendapatkan intan, ia diharuskan membaca Salawat Nabi dan kemudian mengulum intan itu di mulutnya.

Selama mencari intan, para pendulang ini juga harus menghindari beberapa ketentuan yang dianggap tabu seperti mengibaskan pakaian, kencing di lubang pendulangan, bersiul, bernyanyi, dan tertawa terbahak-bahak.

Bila berminat datang ke pasar ini, dari ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Lama waktu tempuhnya mencapai 45 menit. Namun jika datang dari Bandara Syamsudin Noor, waktu tempuhnya akan relatif lebih singkat. (wisatamelayu/*/X-12)

Sumber :
http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2010/09/27/1432/2/Intan-Berkilauan-di-Martapura

Sumber Gambar:
http://trihadmojo.student.umm.ac.id/files/2010/06/martapura1.jpg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar